Secara historis, indiepop merupakan
varian atau subkultur dari punk yang
mengalami transformasi dalam segi
lirik dan musik. Muncul sejak akhir
70-an lewat para musisi post-punk;
kemudian mengalami
pembentukannya di pertengahan era
80, hingga merekah pada akhir 80-
an dan awal 90-an. Sampai
sekarang, indiepop telah banyak
mengalami revolusi musikal yang
beragam. Namun terlepas dari itu,
substansi indiepop itu sendiri sama
dengan punk; ia adalah punk dengan
jaket pop minimalis yang sangat
manis; indiepop kids (baca: indiekids)
adalah punk dengan sepatu keds dan
pakaian sesukanya. Ia memiliki
ideologi, filosofis dan pola pikir yang
independen, self-sustain dan self-
indulgement. Hal ini terlihat secara
konkrit dari banyaknya label pop
independen yang merilis band/
musisi indiepop sepanjang awal 80-
an sampai sekarang; maraknya
publikasi fanzine seperti propaganda
punk di pertengahan 70-an; acara
radio/musik, dsb. Secara kultur,
indiepop terkomunal dan termajinal
seperti halnya punk. Para pelaku dan
musisi indiepop membentuk
berbagai komunitas yang tersebar
secara geografis dan terangkai secara
komunikatif lewat fanzine serta
sederet lawatan antar kota, daerah,
dan negara.
Guna mengetahui latar belakang
indiepop, kita perlu menelusuri dulu
sejarah indie itu sendiri. Seperti
diketahui, indie memang berasal dari
kata independent. Namun harus
dibedakan antara independen sebagai
(1) status artis/band atau minor label
yang tidak dikuasai/dikendalikan
major label dan (2) independen
dalam konteks indie sebagai
subkultur dan genre musik. Untuk
pengertian (1), sejarahnya dimulai
sejak awal abad 20 dengan
kemunculan minor label seperti
Vocalion atau Black Patti yang kala itu
berupaya mengikis dominasi major
label semacam Victor, Edison, dsb.
Walaupun independensi pada pola
dan jaman itu tidak menjalin akar
dengan pengertian (2), mereka
bertendensi serupa sebagai antitesis
mainstream dengan merilis musik
kaum minoritas seperti blues,
bluegrass, dsb. Tapi saat itu yang
terjadi sekadar rivalitas antara kapital
kecil melawan kapital besar dan
pergerakannya tidak bersifat integral.
Lalu di era 50-an mulai berkembang
wacana independen untuk
memerdekakan kreatifitas dari
intervensi kepentingan industri.
Kendati demikian, kondisi yang
tercipta tidak menghasilkan karakter
signifikan. Bipolarisasi terhadap arus
utama belum terwujud. Mereka
memang berproduksi secara minor
tapi iramanya masih mengacu ke
pola major label juga. Walaupun
bermotif kebebasan berekspresi,
mereka hanya independen secara
kapital dari major label namun
orientasi musiknya tetap setipe
major label.
Kecenderungan awam dalam
menyikapi istilah indie adalah
menyamaratakan semua yang
independen sebagai “indie”. Dengan
demikian itu hanya bertumpu ke
unsur kata (independen) saja sebagai
kemerdekaan secara harafiah dan
tanpa batas. Ada pula yang
mempertanyakan “indie” dalam
kapasitasnya sebagai kebebasan
mutlak. Padahal independensi dalam
wacana (2) sangat berbeda dengan
(1). Artinya istilah indie
sesungguhnya masih merujuk ke
spesifikasi tertentu. Indie akan
mampu dipahami secara
proporsional bila ditelusuri ke
konteks historis atau wacana
terjadinya pembentukan istilah itu.
Namun jarang ada media yang mau
menggali lebih dalam. Sehingga
“indie” cenderung dikotakkan sebagai
musik laris manis yang cocok bagi
selera awam. Sedangkan musik indie
sesungguhnya yang underrated
malah diabaikan. Hal semacam itulah
yang kerap menimbulkan
miskonsepsi publik bahwa “indie”
semata-mata pola kerja dan
kemurnian idealisme. Bagaimana bila
sebuah band beridealisme
mainstream tapi mereka berproduksi
secara swadaya? Apakah itu
termasuk indie? Tentu tidak. Karena
independen secara minor label atau
self-released tidak menjamin artis/
label itu berkarakter indie. Karena
seseorang yang berjiwa mainstream
pun bisa saja menghasilkan karya
berkarakter mainstream tapi dikemas
secara “Do-It-Yourself” dengan dalih
kebebasan ekspresi atau budget
minim.
Kasusnya seperti gaya rambut suku
indian mohawk yang sudah ada
sebelum punk. Namun orang
cenderung menggeneralisir semua
gaya rambut mohawk sebagai
representasi punk. Padahal tidak
semua orang yang berambut
mohawk menganut ideologi punk.
Demikian pula halnya pada
pemahaman minor label atau self-
released yang disetarakan indie,
padahal keduanya bukan parameter
mutlak bagi status indie. Oleh karena
itu, perlu ada pembelajaran bagi
masyarakat agar mereka tidak latah
terhadap istilah “indie”. Artinya publik
patut memahami bahwa segala
sesuatu yang independen belum
tentu indie dan indie belum tentu
independen (secara label).
Sesungguhnya istilah indie sebagai
independensi dalam pengertian (2)
bermula dari identifikasi terhadap
subkultur pop underground di
Inggris yang berevolusi antara era
punk hingga post-punk selama
periode 1977 s/d 1986. 1977 ditandai
oleh “Nevermind the Bollocks”-nya
Sex Pistols dan 1986 melalui
dirilisnya kaset kompilasi C86 yang
menjadi bonus majalah New Musical
Express (NME). Asal mula kata
independent menjadi indie bermula
dari tabiat anak-anak muda Inggris
yang suka memotong kata agar
mempermudah pelafalan informal
seperti; distribution menjadi distro,
british menjadi brit, dsb. Di balik
pemendekan kata independen itu
kemudian terkandung sebuah definisi
kontekstual indie yang menjadi basis
pergerakan subkultural. Sehingga
sejak masa itu tidak sembarang
makna independen secara umum
bisa diasosiasikan dengan indie.
Namun hingga kini pun orang awam
masih sering salah paham dengan
menyamakan makna indie dalam
wacana (2) dengan independen
dalam wacana (1).
Kenapa disebut indie? Sebab akhir
70-an hingga awal 80-an merupakan
masa pancaroba dari musik punk ke
arah post-punk dan orang Inggris
kala itu mulai menggunakan istilah
tersendiri guna menjuluki
kecenderungan musik punk yang
semakin pop, yakni: indie. Secara
awam, “Nevermind the Bollocks”
adalah icon kejayaan punk. Namun
bagi musisi underground Inggris,
album Sex Pistols tersebut justru
menjadi batu nisan bagi perlawanan
punk yang sesungguhnya. Mereka
menganggap irama punk sudah
menjadi terlalu klise. Karena itulah
mereka kemudian mulai mengolah
referensi dari soul, folk, pop, dub,
dan berbagai sound yang selama itu
dianggap sebagai musik lunak.
Meskipun secara musikal karakter
punk-nya mulai berkurang, namun
pendekatan maupun sikap mereka
terhadap musik masih menunjukkan
anomali punk. Salah satu pelopornya
justru vokalis Sex Pistols sendiri,
John Lydon, dengan eksperimen pop
dia bersama Public Image Limited
dan sikap frontalnya dalam
memprogandakan anti-rock
movement. Pengertian anti-rock di
sini bukan berarti tidak ada unsur
rock dalam musiknya, namun lebih
kepada pendobrakan stigma bahwa
rock harus brutal, macho, cadas,
dan gahar. Sikap anti-rock ini
sebenarnya juga merupakan turunan
dari budaya mod di era 60-an ketika
generasi muda Inggris mulai
“memberontak” dengan musik yang
stylish dan menentang segala atribut
berbau rocker. Perkembangan dari
sikap itulah yang kemudian
melahirkan sebuah pola estetika indie
sebagai counter-culture terhadap
mainstream. Indie menjadi
representasi anak-anak kutu buku
berkaca mata tebal yang
mengeksplorasi punk sesuka mereka
tanpa harus bergaya rocker atau
punk. Kelahiran indie juga mewakili
wacana politik sayap kiri hingga
feminisme di scene musik
underground. Scene ini menciptakan
band-band pop yang punya sikap
maupun kepedulian sosial dalam
bermusik dan tidak melulu
berdagang lirik asmara. Kalaupun
menyerempet cinta, itupun masih
dibalut oleh kepekaan politik yang
cerdas seperti Belle and Sebastian
dalam “Marx and Engels” atau
Camera Obscura dalam “Anti-
Western”.
Secara musikal, indie berakar dari
improvisasi punk yang merambah
independensi menuju pop dan
menentang stereotipe yang
menganggap musik pemberontakan
harus identik dengan rock’n’roll.
Sehingga lagu yang mereka hasilkan
pun tidak cukup pop untuk disebut
pop namun juga tidak cukup punk
untuk disebut punk. Di sinilah
terjadinya evolusi post-punk dan
proto-indiepop sampai menemukan
karakternya sebagai indie. Buletin
tahunan Billboard pada 1981
mencatat betapa fenomena musik
indie di Inggris mulai menunjukkan
eksistensinya walaupun masih
sebatas wacana ekslusif. Kita bisa
mencermati dokumentasi “24 Hours
Party People” ketika seseorang di
akhir 70-an masih awam terhadap
musik indie. Adegan itersebut
mengilustrasikan bagaimana istilah
indie kala itu belum tersosialisasi.
Pada 1981, NME juga merangkum
eksistensi post-punk dalam kaset
C81. Namun karena aroma punk-nya
masih dominan, kompilasi itu tidak
terlalu membawa perubahan.
Pada pertengahan 80-an,
sekelompok band indie yang
memiliki keunikan musik sejenis
sering berpentas di London Club
Circuit. Kala itu yang menjadi pionir
adalah The Pastels dan Primal
Scream. Kesamaan mereka adalah
sound 60 ’s melodic pop yang
dikombinasikan dengan kemampuan
sederhana untuk bermain instrumen.
Mereka mendapat perhatian dari 2
pemilik club, Crane Canning dan
Simon Esplen. Lalu NME yang tidak
kenal lelah untuk mencari scene
baru, dengan dibantu Canning dam
Esplen, mulai mengompilasikan
mereka guna memperkenalkan
band-band baru ini dan menawarkan
untuk dijadikan bonus eksklusif bagi
tabloidnya. Kaset kompilasi inilah
yang di kemudian hari dikenal
sebagai C86 yang menjadi kiblat bagi
musisi indiepop hingga sekarang.
Ketika spesifikasinya kian kental
dengan nuansa pop lalu musik itu
mulai disebut indie. Namun
komparasi pop dan punk pada masa
itu berbeda dengan pop-punk masa
kini yang karakternya mainstream.
Bagaimanapun format pop yang
dieksplorasi oleh musisi indie dari
masa ke masa, mereka tetap
bertahan dalam koridor non-
mainstream karena menyadari
statusnya sebagai counter-culture
terhadap mainstream. Dengan
resistensi semacam itu, sebagian
besar dari mereka memilih untuk
merekam dan merilis karya mereka
sendiri atau melalui minor label yang
berhaluan indie. Namun fenomena
ini kemudian disalahpahami oleh
orang awam bahwa indie semata-
mata menunjukkan status
independensi sebuah band yang
tidak dirilis oleh major label. Padahal
sebelum pergerakan indie muncul,
sudah banyak band era 50/60-an
yang merilis karya mereka secara
minor label dan itu tidak termasuk
atau disebut indie. Sebaliknya justru
banyak juga band indie yang
bernaung di major label. Pada awal
pencetusan di Inggris, sebenarnya
pengertian indie dan indiepop
mengacu pada pemahaman yang
sama. Artinya saat itu bila kata indie
disebut/ditulis tanpa imbuhan pop,
anak-anak muda Inggris cukup
mengerti spesikasi musiknya berupa
pop independen yang berakar dari
punk. Setelah NME merilis C86 pada
1986, indiepop mulai menemukan
jati dirinya melalui kaset tersebut.
Dari sinilah muncul istilah C86
movement karena kompilasi itu
menjadi fondasi pergerakan sebuah
subkultur yang kini dikenal sebagai
indiepop. Secara koheren, indiepop
adalah pop yang berkarakter
independen dalam pengertian (2),
bukan (1). Band indiepop tidak harus
berada di minor label, mereka bisa
dan boleh saja dirilis oleh major
label. Namun akan lebih ideal dan
karismatik bila band tersebut memilih
bernaung di bawah indie label.
Eksponen paling berpengaruh dalam
gerakan C86 adalah Sarah Records.
Mereka sebenarnya bukan label
indiepop pertama. Sebelumnya
sudah ada Cherry Red dan El
Records yang juga berkarakter
indiepop. Namun secara pergerakan,
reputasi Sarah Records
menjadikannya pionir dan legenda
sebagai label yang sangat agitatif dan
produktif dalam
mempropagandakan indiepop ke
berbagai belahan bumi. Idealnya
seorang musisi indiepop jaman
sekarang patut memahami Sarah
Records dan sejarahnya karena inilah
fundamen dari scene yang dia jalani.
Sedangkan di Amerika salah satu
label indiepop paling berpengaruh
adalah K Records. Kalau Sarah
Records dan scene indiepop Inggris
dikenal melalui pesan-pesan
politisnya yang kekiri-kirian, Amerika
lebih bertumpu ke desentralisasi
kultur pop. Mereka menekankan
pentingnya kesadaran dan kemauan
para scenester untuk mewujudkan
indiepop sebagai musik pop yang
bergerilya secara underground.
Namun seperti uraian di atas, dalam
perkembangannya istilah indie
mengalami perluasan makna akibat
eksploitasi media massa yang
menjadikannya rancu. Secara
general, definisi indie di Indonesia
cenderung dipublikasikan sebagai
pola kerja mandiri semata. Padahal
esensi indie bukan sekadar
kemandiriannya saja, namun lebih
kepada Roots-Character-Attitude
(RCA) yang bertumpu pada resistensi
terhadap mainstream. Sebagai
contoh, The Smiths dan New Order
dirilis oleh Warner Music namun
reputasinya masih diakui sebagai
band indie karena RCA mereka
adalah indie. Bahkan secara
internasional indie diakui sebagai
genre. Itu artinya, ada sebuah
konsensus global yang memahami
indie dalam spesifikasi musik
tertentu.
Ketika makna indie diperluas sampai
musik brutal/extreme, ekperimantal,
atau cutting edge non-pop,
pemakaian istilah itu masih relevan
karena sifatnya sebagai sesama
budaya tandingan dari mainstream.
Namun penggunaan kata indie
sangat tidak tepat bila disandang
band yang memainkan musik pop
mainstream ketika mereka
merekam/merilis lagunya sendiri.
Karena bagaimanapun juga musik
mereka bukan indie walaupun pola
produksinya seperti “indie”. Lalu
bagaimana menentukan band itu
indie atau bukan? Disinilah arti
penting parameter RCA yang telah
disebutkan tadi. Guna
mendistribusikan rekaman indie,
para scenester (aktivis musik) indie
membangun jalur distribusi di luar
sistem mainstream yang kemudian
dikenal sebagai distro. Dengan
demikian, indiepop sebenarnya
menerapkan unsur-unsur budaya
resistensi punk walaupun para
pelakunya tidak berdandan ala punk.
Keistimewaan indie terletak pada
jaringan kerjanya. Indie tanpa
networking akan menjadi benteng
tanpa prajurit. Dalam relasinya indie
cenderung lebih mengedepankan
unsur humanis. Dukungan
mutualisme semacam ini
sebenarnya adalah warisan dari 3
dekade silam ketika indie label yang
lebih besar memberi dukungan
kepada indie label yang lebih kecil
untuk berkembang lebih pesat tanpa
mengawatirkan rivalitas pasar. Indie
bergerak kepada orientasi pendengar
yang segmentatif. Kalaupun akhirnya
mendapat respon luas, itu dianggap
senagai bonus saja. Faktor
penentunya adalah sikap artis/band
indie tersebut ketika mulai dikenal
secara luas. Mereka harus lebih bijak
dalam menjaga pakem agar
karakternya tidak terseret menjadi
pasaran atau kacangan.
Bisa dibilang indie yang ideal adalah
indie yang ekslusif. Bahkan bagi
anak-anak indiepop: semakin
eksklusif sebuah band, semakin layak
band itu dijadikan panutan. Namun
ekslusif di bukan berkonotasi negatif.
Eksklusivitas dalam indiepop bukan
berarti perbedaan kelas secara sosial/
ekonomi/budaya, namun lebih
kepada perlindungan dari eksploitasi
mainstream. Salah satu contoh band
indie lokal yang paling ideal adalah
Pure Saturday. Mereka punya
fanbase yang solid di komunitas
indie tapi secara mainstream mereka
tidak terekspos. Eksploitasi yang
berlebihan justru akan memudarkan
musik indie itu sendiri. Ibarat warna,
indie adalah abu-abu yang tidak
selayaknya menjadi hitam atau putih.
Indiepop perlu dikenal tapi tidak
menjadi terkenal secara berlebihan.
Sebenarnya publikasi yang luas bagi
indiepop hanyalah untuk
menjangkau dan mempersatukan
fanbase yang sporadis. Namun
seringkali eksesnya justru
menjadikan indie terjerat oleh
budaya latah, apalagi di Indonesia.
Publik cenderung memanipulasi
makna independensi secara mutlak
dalam tafsir etimologi semata.
Karena itulah makna indie di
Indonesia menjadi simpang siur
akibat pemaknaan independen secara
harafiah tanpa pakem ideologis.
Padahal secara global indie sudah
diakui sebagai genre, bukan sekadar
pola kerja. Sebagaimana
relevansinya dengan indie secara
subkultur, indiepop adalah pop
independen yang menjadi counter-
culture terhadap pop mainstream.
Namun pengertian pop yang
independen jangan disalahpahami
sebagai kemerdekaan absolut karena
indiepop tetap mengacu pada pakem
tertentu. Parameter tersebut adalah
RCA yang mengacu pada subkultur
indiepop itu sendiri. Singkatnya indie
adalah etos cutting edge, avant garde
atau budaya kreatif yang menjadi
alternatif dari pola-pola musik pada
umumnya.
Seiring perkembangan corak musik,
indiepop masa kini secara musikal
memang tidak lagi sarat dengan
punk. Namun etos punk masih dan
akan selalu dianut olah para musisi
indiepop di belahan dunia manapun.
Dengan musik yang sangat catchy
dan selling, sebenarnya banyak band
indiepop yang berpeluang besar
untuk menjadi artis jutaan kopi
dengan menawarkan demo ke
major label. Namun mereka tidak
melakukan itu karena orientasi
mereka bukan sekadar popularitas
dan kemewahan, namun lebih
kepada kepuasan personal dan
idealisme dalam berkarya. Bahkan
ada yang menolak tawaran
manggung hanya karena skala
pentas dan panggungnya terlalu
besar.
Sikap semacam itu pun banyak
ditunjukkan band indiepop lainnya
dengan menjaga jarak dengan pers
umum. Inilah contoh sikap punk
yang berbeda dari stereotipe artis
mainstream. Musisi lokal yang
memang ingin menjadi indie
seharusnya banyak belajar dari situ
sehingga mereka tidak menjadi
popstar wannabe yang terobsesi
gemerlap popularitas secara
mainstream. Kurt Cobain bisa jadi
contoh ideal sebagai figur musisi
indie karena dia malah depresi saat
musiknya kian terkenal dan pasaran.
Indiepop mengajarkan pada kita
bahwa pop tidak diukur dari
sebarapa banyak rekaman yang
terjual atau seberapa banyak
penggemarnya. Ketika industri
mainstream menganggap musik
yang bagus harus dilegitimasi oleh
hype/trend massal dan dominasi
chart, indiepop secara murni
menghargai musisi dari musiknya,
bukan dari popularitas. Indiepop juga
meyakini bahwa pop tidak harus
masuk Top 40 atau diliput media
mainstream. Pop dalam konteks
indiepop adalah cita rasa berbalut
sikap menentang mainstream.
Kurang lebih 10 tahun sudah
indiepop eksis di Indonesia sebagai
sebuah genre dan kultur tandingan;
setipe dengan metal, punk maupun
hardcore bersama fanzine-nya yang
telah berkembang lebih dahulu.
Bandung dan Jakarta adalah dua kota
yang menjadi sentra kemunculan
dan berkembangnya indiepop di
negeri kita. Dari sana baru beberapa
tahun kemudian indiepop mulai
menyebar sampai ke Jogja,
Surabaya, Semarang, bahkan hingga
kota kecil seperti Purwokerto,
Malang, Bogor, Salatiga, dst.
Indiepop muncul dan berkembang di
Bandung seiring perkembangan
musik underground dengan band
seangkatan Koil, Puppen, Full of Hate,
dsb. Kehadiran indiepop di kota ini
bisa dilacak melalui grup semacam
Pure Saturday yang pertama kali
merilis rekaman secara independen
pada 1995 dan Cherry Bombshell
yang mengedarkan demonya
sebagai publikasi secara independen.
Selain mereka, banyak juga band
yang lahir pada masa itu dan
sesudahnya, seperti Kubik, The Milo,
The Jonis, sampai munculnya para
eksponen baru lewat Mocca dan
Homogenic di bawah label
independen Fast Forward yang lebih
dulu memberi input bagi scene lokal
dengan merilis band-band indiepop
mancanegara seperti The Cherry
Orchard (France), 800 Cherries
(Japan), Ivy (US) dan Club 8
(Sweden). Selain Fast Forward,
Poptastic! Records juga menjadi
referensi handal dengan merilis
kompilasi Supadupa Fresh Pop yang
berisi sejumlah band indiepop
Jerman. Di samping band, Bandung
juga cukup potensial dengan
ramainya acara indiepop hampir
setiap minggu. Acara berjudul
Poptastic! yang diadakan oleh
Poptastic! Records merupakan event
bersejarah dalam perkembangan
indiepop di Indonesia. Majalah
cutting edge dari kota ini, Trolley,
telah menjadi media pionir yang
memicu wacana indiepop secara
mendalam. Hingga sekarang
perkembangan scene di Bandung
semakin marak dengan pentas
reguler semacam Les Voila maupun
berbagai program radio khusus
indiepop semacam Micropop,
Popclusive, Pop Till You Drop, dsb.
Menyeberang ke Ibu Kota, indiepop
di Jakarta tiada bedanya dengan yang
terjadi di Bandung. Semarak
indiepop di Jakarta lahir dari hingar
bingarnya britpop yang terjadi di
Inggris pada pertengahan era 90.
Black Hole, Poster, dan beberapa
venue bersejarah di Jakarta sangat
mendukung penampilan band
indiepop lokal yang kala itu lebih
bervarian britpop. Generasi pertama
diantaranya Pestol Aer (eksis sejak
awal 90-an sebagai band punk
namun beralih ke indiepop setelah
merilis LP s/t pada 1995), Planet
Bumi (produktif membuat 3 LP
independen sejak 1995), Rumah Sakit
(membuat rilisan independen sejak
1996), New Disease, Molenvliet,
Gunting Kuku, dan sederet nama
aneh lainnya. Young Offender dan
Slammer merupakan komunitas
yang kerap mengadakan acara
dengan band-band tersebut.
Dinamika band indie/britpop Jakarta
ini bisa dilacak lewat fanzine lokal
bernama Protection yang kini telah
bermutasi menjadi webzine.
Beberapa tahun kemudian, Jakarta
semakin berkembang dengan
lahirnya generasi baru yang tidak
sekadar terpengaruh britpop,
melainkan varian yang lebih
progresif (twee, jangle, bliss, folk,
dsb.). Blossom Diary, Santa Monica,
The Sweaters, Sugarstar, C ’Mon
Lennon, Ballads of the Cliché,
Belladonna, dan The Sastro adalah
sekian dari banyak penerus kultur
indiepop saat ini. Jangkauan mereka
pun makin mendunia dengan
dirilisnya karya mereka oleh berbagai
label indiepop di luar negeri. Eve Zine
yang terbit sejak pergantian
millennium adalah media independen
asal Jakarta yang secara konsisten
membahas band dan berita-berita
indiepop paling aktual.
Perkembangan indiepop di Jakarta
juga ditunjang oleh maraknya
komunitas yang tersebar di hampir
seluruh penjuru Ibu kota seperti Balai
Pustaka, Senayan Street, dsb. Berkat
pergerakan semacam itulah scene
Jakarta mampu terus berkembang
melalui regenerasinya yang sangat
dinamis.
Munculnya indiepop di Jogja juga
tidak bisa dipisahkan dari
perkembangan subkultur tersebut di
Bandung dan Jakarta. Kebangkitan
indiepop di DIY bermula pada awal
2000 dari beberapa mahasiswa yang
berkumpul secara komunal setiap
akhir pekan di Gelanggang
Universitas Gadjah Mada dan
mengukuhkan eksistensinya dengan
nama Common People. Seperti
halnya Young Offender di Jakarta
atau Space City di Surabaya,
Common People banyak memberi
kontribusi bagi perkembangan
indiepop di kota ini. Bentuk
konkritnya adalah Garage Party,
sebuah acara rutin bagi band-band
indiepop untuk unjuk gigi dan sarana
gathering, sekaligus mencari massa
baru. Bangku Taman, Strawberry’s
Pop, Anggisluka, Klinik Mata dan
Morning Glory adalah sederet band
yang muncul pada awal
perkembangan indiepop di Jogja.
Dinamika indiepop di kota ini juga
diwarnai dengan munculnya
Blossom Records dan fanzine seperti
Shine (2001) dan Square (2002) yang
mengulas indiepop berupa feature,
interview maupun review musik.
Blossom Records yang berdiri sejak
2002 merupakan salah satu minor
label di Jogja yang mempublikasikan
band-band indiepop melalui LP, EP,
maxi-single maupun kompilasi.
Sekarang kultur indiepop di kota ini
mengalami perkembangan progresif
lewat eksponen baru yang sangat
potensial seperti Plastic Dolls, The
Monophones, The Superego,
Dojihatori, The Dolphins, Ruang
Maya, dan Indiepop Rising Club,
sebuah collective network yang
mensosialisasikan kultur indiepop
kepada publik DIY melalui program
Outerbeat, Blissteria, Ordinary Girl,
Pop Kinetic, dsb.
Dalam skala global, indiepop telah
berkembang menjadi jaringan kerja
antar bangsa yang memungkinkan
terjadinya rotasi untuk saling merilis
rekaman di negara masing-masing.
Gejalanya mulai dirasakan oleh band-
band indiepop Indonesia yang telah
dirilis di Swedia, Jepang, Singapore,
Spanyol, Peru, dst. Mereka bisa
saling berkomunikasi dengan baik
karena idealisme mereka terhadap
indie sama-sama merujuk kepada
pemahaman internasional, yakni
spesikasi musik tertentu yang
berakar dari fenomena C86 maupun
Sarah Records. Jaringan ini akan
semakin solid dengan munculnya
generasi baru yang tumbuh dengan
idealisme mengakar dalam jiwa
mereka, yaitu spirit independensi
untuk selalu menjadi counter-culture
terhadap musik mainstream,
resistensi pada tren atau selera
awam, dan idealisme self-sustain/
self-indulgement yang menjadi
karakter eksistensinya, seperti
kawan-kawan mereka di negara lain
di seluruh belahan dunia.
Semoga wacana ini bisa menjadi
pengantar bagi kamu yang ingin
lebih mendalami musik indie.
Mulailah dengan memahami bahwa
independen belum tentu indie dan
indie belum tentu independen (secara
label). Dari situ niscaya kamu akan
memperoleh pencerahan untuk
menyadari bahwa selama ini “indie”
yang dimanipulasi secara
mainstream adalah suatu
pembodohan. Jadi kalau ada band
pop non-major label yang musiknya
setipe Colpdlay atau Nidji dan mereka
mengklaim dirinya “indie”, berarti
kamu sedang dibodohi.